Sehat dan Bahagia dengan Bersedekah

PDFCetakSurel

Selasa, 30 Agustus 2016 04:33

Sesungguhnya ketakutan yang dipelihara itu memblokir jalur-jalur cerdas di dalam otak. Dengan melaksanakan zakat, infak, dan sedekah, gerendel serta blokir-blokir mental itu akan terbuka.


"Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika dia terpeleset (jatuh). Seorang pemurah hati dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan dekat kepada surga. Seorang yang bodoh tapi murah hati (dermawan) lebih disukai Allah daripada seorang alim (tekun beribadah) tetapi kikir." (HR. Thabrani)

Apa yang paling dihindari manusia? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Namun, semuanya bermuara pada satu hal, yaitu takut kehilangan. Setiap orang memiliki ketakutan hilangnya segala sesuatu yang dianggap miliknya. Karena takut dipecat, seorang karyawan bekerja dengan tekun dan taat aturan. Karena takut jatuh miskin, seseorang mempertahankan hartanya agar tidak menyusut, dan sebagainya.

Inilah yang disebut respons defensif yang bersifat antisipatif, yang setiap manusia memiliki kecenderungan mempertahankan hak miliknya tersebut. Apalagi jika yang dimilikinya itu dapat mendatangkan aneka kenyamanan dan kesenangan, semacam harta, jabatan, ketenaran, dan sejenisnya.

Apabila ketakutan ini tidak dikelola dengan baik, amigdala di otak akan memperkuat dan menyebarkannya sebagai pondasi dan sikap mental yang kurang baik. Seseorang cenderung egois, agresif, dan mudah curiga. Alur kognisi atau sirkuit pemecahan masalah pun akan menampilkan sifat tergesa-gesa. Sifat utama yang dikedepankan adalah bagaimana agar keinginan dirinya dapat terpenuhi secara cepat dan mudah. Pertimbangan jangka panjang pun tidak masuk dalam proses pemikiran.

***

Allah Mahatahu kalau manusia memiliki sifat demikian. Maka, Dia pun memberi mekanisme yang sangat cerdas untuk mengendalikannya, yaitu melalui konsep berbagi dalam bentuk zakat, infak, maupun sedekah. Peran zakat, infak, dan sedekah pada dasarnya adalah "mengingatkan" kembali bahwa setiap karunia yang didapatkan adalah amanah atau titipan yang bersifat sementara. Kemampuan dan kemauan kita untuk melewati "mental barrier" alias hambatan mental kepemilikan dan takut kehilangan akan membawa dampak yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah terbukanya kesadaran yang mampu menjernihkan pikiran, sehingga kita menjadi gembira dan bahagia karena terlepas dari himpitan "ketakutan" rasa kehilangan. Kesadaran tersebut, secara neurologi, diproses oleh beberapa lokasi penting di otak seperti nukleus acumben, girus singulata, dan nukleus raphe.

Sesungguhnya ketakutan yang dipelihara itu memblokir jalur-jalur cerdas di dalam otak. Dengan melaksanakan zakat, infak, dan sedekah, gerendel serta blokir-blokir mental itu akan terbuka dan jalur berpikir cerdas siap menghadirkan berbagai solusi berbagai permasalahan. Dengan zakat, infak, dan sedekah kinerja kognisi dan fungsi luhur di kulit otak dan otak bagian depan mendapat peluang teroptimasi fungsi dan perannya. Dengan teroptimasinya fungsi cerdas otak, akan ada banyak permasalahan yang bisa kita tempatkan secara proporsional dan dapat kita selesaikan dengan lebih mudah.

Apabila terjadi akumulasi pengurangan tekanan psikologis karena munculnya kemampuan menyelesaikan permasalahan secara strategis, kenaikan kadar kortisol yang menyertai tingginya tekanan bisa direduksi. Karena sifat kortisol menekan sistem imun, turun atau terkendalinya kadar kortisol berdampak positif pada kinerja sistem imun. Tubuh semakin kuat dalam menghadapi aneka zat penyebab penyakit (patogen). Dengan demikian, zakat, infak, dan sedekah tidak sekadar melipatgandakan rezeki, menyehatkan jiwa, tetapi juga mampu menyehatkan badan dan mempertajam pikiran.

Sejumlah penelitian membuktikan hal tersebut. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Elisabeth Dunn, seorang pakar psikologi dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada. Dia melakukan jajak pendapat kepada 16 karyawan di sebuah perusahaan di Boston sebelum dan sesudah mereka mendapatkan bonus dengan beragam besaran. Dunn dan rekannya pun mengumpulkan data tentang gaji, pengeluaran, dan tingkat kebahagiaan dari 632 orang di seantero Amerika Serikat. Kesimpulannya sungguh menarik. Dalam kedua kelompok orang tersebut, kebahagiaan ternyata ada hubungannya dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk orang lain daripada jumlah absolut bonus atau gaji.

***

Itulah mengapa, Jonah Lehler dalam bukunya How We Decided (2010:241) mengatakan bersikap dermawan (altruistik) itu terasa enak. Mengapa demikian? Sesungguhnya, Allah Ta'ala merancang otak manusia sedemikian rupa sehingga yang namanya berbagi, memberi, dan bersikap dermawan itu menyenangkan. Bersikap baik kepada orang lain, dengan demikian, akan membuat kita lebih aman dan nyaman daripada berlaku kikir.

Penelitian membuktikan kalau otak orang-orang yang memilih menyedekahkan uangnya, ternyata lebih aktif dibandingkan otak orang-orang yang sekadar menabung atau membelanjakan uangnya untuk kepentingan sendiri. Orang yang memilih menyedekahkan uangnya terlihat lebih senang dan lebih puas atas kedermawanan yang dilakukannya. Kebahagiaan mereka saat memberi pun jauh lebih tinggi daripada saat menerima uang. Dengan demikian, dari sudut pandang neurosains terbukti sudah bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima; tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Dalam perspektif yang lebih luas, memberi pun dapat menyambungkan hubungan yang terputus, mengeratkan tali persaudaraan, mengikis permusuhan, melahirkan kasih sayang, dan bisa menyembuhkan aneka macam penyakit fisik dan psikologis. Itulah mengapa, Rasulullah saw senantiasa menganjurkan kita agar menjadi orang-orang dermawan dan menghindarkan diri dari sifat kikir lagi tamak. "Kemurahan hati adalah dari (harta) kemurahan hati dan pemberian Allah. Maka, bermurah hatilah niscaya Allah bermurah hati kepadamu." (HR Thabrani)

Sumber : http://www.daaruttauhiid.org/artikel/read/artikel-islami/380/sehat-dan-bahagia-dengan-bersedekah

 

Peduli Pengungsi Rohingnya

PDFCetakSurel

Selasa, 23 Juni 2015 04:07

Medan,hariandeteksi.com - Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial Sumut bersama PKPU cabang Medan, Bank Sumut Syariah dan LAZ PT Bank Sumut meluncurkan kegiatan Peduli Pengungsi Rohingnya Sumut bertempat di lokasi Pengungsian Hotel Beras Pati Jalan Jamin Ginting Medan, Rabu (17/6/2015).

Kegiatan yang diresmikan langsung oleh Ketua BK3S Sumut Hj. Sutias Handayani Gatot Pujo Nugroho dihadiri oleh anggota DPRS Sumut Fraksi PKS Herlina Gusti, Kepala Pos Keamanan Peduli Umat (PKPU) Medan Dian Mardiana, Bank Sumut Syariah Kaswinata.

Dihadapan 110 pengungsi tersebut yang terdiri dari Myanmar, Banglades, Birma, Sutias mengaku senang bisa hadir. Juga mengatakan kedatangan pengungsi merupakan tamu Indonesia terutama di Sumut. Alasannya pengungsi tersebut meninggalkan negaranya demi mempertahankan akidah. "Sebagai saudara sesama muslim sudah seharusnya kita mengulurkan bantuan," katanya.

Sutias mengatakan launcing yang di prakarsai PKPU cabang Medan program awal untuk membantu khususnya menjelang bulan ramadan. "Rencana  sumbangan pengungsi akan diberikan makanan sahur dan takjil untuk awal dilakukan selama 15 hari dan diupayakan sampai sebulan penuh,"ujarnya.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan makan bersama dengan pengungsi. Tanpa diprakarsai Sutias bersama pengungsi saling menyuapi makanan dengan pengungsi perempuan. "Saya sempat terkejut disuapi oleh pengungsi, rupanya hal itu merupakan tradisi atau ungkapan kasih sayang antara orang tua dan anak di sana,"ujar Sutias yang tak canggung mendapat suap dan juga menyuapi pengungsi rohingnya tersebut.

Hal senada juga disampaikan Kepala cabang PKPU Medan pemberi bantuan tersebut berasal dari infak masyarakat yang dikelola PKPU juga bekerjasama BK3S Sumut, LAZ PT. Bank Sumut dan Bank Sumut Syariah, Sementara launching program ini kita mengetuk hati semua utk peduli sesama khususnya bulan Ramadhan. Dengan memberi alat sholat, Pemberian/penyediaan makanan berbuka selama 15 hari selama bulan puasa. Jika bertambah partisipan maka akan dilaksanakan penuh 30 hari. Selain itu disalurkan juga kepada pengungsi Paket Hygienis diantaranya sabun, shampo, pasta gigi, detergen dan lainnya.

 
 

Orang - Orang Yang Di Do'a kan Para Malaikat

PDFCetakSurel

Senin, 05 May 2014 08:10

Pada hari kiamat nanti, para malaikat akan memberikan syafa‘at, sebagaimana dijelaskan di dalam Shahih Muslim dan yang lainnya. Para malaikat juga akan memberikan syafa‘at di dunia, yang mana mereka akan memohonkan ampunan untuk semua orang mu’min.

Begitu mulianya kedudukan para malaikat, karena mereka termasuk dalam golongan makhluk Allah Ta‘ala yang selalu dikabulkan do‘anya. Para malaikat tidak pernah berbuat sesuatu kecuali berdasarkan apa yang diperintahkan oleh Allah. Ini juga bermakna, para malaikat tidak pernah mendo‘akan seorang hamba kecuali orang-orang yang diridhai Allah. Maka lakukankanlah amalan-amalan yang membuat kita mendapat tempat dalam golongan orang-orang yang dido‘akan oleh para malaikat.

Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya". (QS Al-Anbiyaa' 26-28)

Di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, telah dijelaskan tentang dua golongan yaitu: Pertama; golongan orang yang berbahagia, yakni mereka yang dido‘akan oleh para malaikat, dan Kedua; golongan orang yang sengsara, yakni mereka yang dilaknat oleh para malaikat.

Berikut ciri-ciri golongan yang dido‘akan oleh para malaikat.

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa "Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan karena tidur dalam keadaan suci". (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama dia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya: 'Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, sayangilah dia' ". (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Shahih Muslim no. 469)

3. Orang yang berada di shaf barisan depan ketika shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan". (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib RA, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang yang menyambung shaf pada shalat berjamaah.
Yaitu orang yang tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf". (Para Imam iaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah RA, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan "Amin" ketika seorang imam selesai membaca Al-Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda: "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'amin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka dia akan diampuni dosanya dimasa lalu". (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda: "Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu di antara kalian selama dia ada di dalam tempat shalat dimana dia melakukan shalat, selama dia belum batal wudhu’nya, (para malaikat) berkata: 'Ya Allah, ampunilah dan sayangilah dia' ".(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Al-Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang yang melakukan shalat Shubuh dan Ashar secara berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda: "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu salat ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga salat ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat' ". (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Al-Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda: "Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'amin' dan engkau pun mendapatkan apa yang dia dapatkan' ". (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' RA, Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang yang memberi infaq.
Rasulullah SAW bersabda: "Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali dua malaikat turun kepadanya, salah satu di antara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit' ". (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa) kepada orang-orang yang sedang makan sahur" Insya Allah termasuk di saat sahur untuk puasa "sunnah". (Imam Ibnu Hibban dan Imam At-Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar RA, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhiib wat Tarhiib I/519)

11 Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang mu’min menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang hingga petang dan di waktu malam hingga shubuh". (Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA, Al-Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkata, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda: "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya, dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain". (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily RA, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Kitab Shahih At-Tirmidzi II/343)

 
 

Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat

PDFCetakSurel

Rabu, 19 Maret 2014 07:17

Saudaraku …

Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri? Begitu banyakkah dosa dan noda? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik…

Saudaraku …

Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu? Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan.

Saudaraku …

Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)

Hilangkan pula kebimbanganmu, karena kekasih hati tercinta, Nabi-Nya yang mulia –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- telah bersabda:

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Ikutilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya itu akan menghapuskannya. (HR. At Tirmidzi No. 1987, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21354, 21403, 21487, 21536, 21988, 22059, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 296, 297, 298, juga Al Mu’jam Ash Shaghir No. 530, Ad Darimi No. 2833, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 178, katanya: “Shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.” Disepakati oleh Imam Adz DZahabi dalam At Talkhish. Sementara Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Al Albani menghasankannya dalam kitab mereka masing-masing)

Saudaraku …

Tidak usah berkecil hati dan jangan putus asa, sungguh agama mulia ini pernah dimenangkan oleh orang mulianya dan para fajir (pelaku dosa)nya. Semuanya mengambil bagian dalam gerbong caravan pejuang Islam. Imam Al Bukhari telah membuat Bab dalam kitab Shahihnya, Innallaha Yu’ayyidu Ad Diin bir Rajul Al Faajir (Sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya melalui seseorang yang fajir). Ya, kadang ada pelaku maksiat, seorang fajir, justru dia melakukan aksi-aksi nushrah (pertolongan) terhadap agamanya, dibanding laki-laki yang shalih. Semoga aksi-aksi nushrah tersebut bisa merubahnya dari perilaku buruknya, dan dia bisa mengambil pelajaran darinya sampai dia berubah menjadi orang shalih yang berjihad, bukan lagi orang fajir yang berjihad.

Saudaraku … Ada Abu Mihjan!!

Kukisahkan kepadamu tentang Abu Mihjan Radhiallahu ‘Anhu. Ditulis dengan tinta emas para ulama Islam, di antaranya Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala pada Bab Sirah Umar Al Faruq. (2/448. Darul Hadits, Kairo), juga Usudul Ghabah-nya Imam Ibnul Atsir. (6/271. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Beliau adalah seorang laki-laki yang sangat sulit menahan diri dari khamr (minuman keras). Beliau sering dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk diterapkan hukum cambuk (Jild) padanya karena perbuatannya itu. Bahkan Ibnu Jarir menyebutkan Abu Mihjan tujuh kali dihukum cambuk. Tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sangat mencintai jihad, perindu syahid, dan hatinya gelisah jika tidak andil dalam aksi-aksi jihad para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum.

Hingga datanglah perang Al Qadisiyah yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu melawan Persia, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu. Abu Mihjan ikut andil di dalamnya, dia tampil gagah berani bahkan termasuk yang paling bersemangat dan banyak membunuh musuh. Tetapi, saat itu dia dikalahkan keinginannya untuk meminum khamr, akhirnya dia pun meminumnya. Maka, Sa’ad bin Abi Waqash menghukumnya dengan memenjarakannya serta melarangnya untuk ikut jihad.

Di dalam penjara, dia sangat sedih karena tidak bisa bersama para mujahidin. Apalagi dari dalam penjara dia mendengar suara dentingan pedang dan teriakan serunya peperangan, hatinya teriris, ingin sekali dia membantu kaum muslimin melawan Persia yang Majusi. Hal ini diketahui oleh istri Sa’ad bin Abi Waqash yang bernama Salma, dia sangat iba melihat penderitaan Abu Mihjan, menderita karena tidak dapat ikut berjihad, menderita karena tidak bisa berbuat untuk agamanya! Maka, tanpa sepengetahuan Sa’ad -yang saat itu sedang sakit, dan dia memimpin pasukan melalui pembaringannya, serta mengatur strategi di atasnya- Beliau membebaskan Abu Mihjan untuk dapat bergabung dengan para mujahidin. Abu Mihjan meminta kepada Salma kudanya Sa’ad yaitu Balqa dan juga senjatanya. Beliau berjanji, jika masih hidup akan mengembalikan kuda dan senjata itu, dan kembali pula ke penjara. Sebaliknya jika wafat memang itulah yang dia cita-citakan.

Abu Mihjan berangkat ke medan tempur dengan wajah tertutup kain sehingga tidak seorang pun yang mengenalnya. Dia masuk turun ke medan jihad dengan gesit dan gagah berani. Sehingga Sa’ad memperhatikannya dari kamar tempatnya berbaring karena sakit dan dia takjub kepadanya, dan mengatakan: “Seandainya aku tidak tahu bahwa Abu Mihjan ada di penjara, maka aku katakan orang itu pastilah Abu Mihjan. Seandainya aku tidak tahu di mana pula si Balqa, maka aku katakan kuda itu adalah Balqa.”

Sa’ad bin Abi Waqash bertanya kepada istrinya, dan istrinya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Abu Mihjan, sehingga lahirlah rasa iba dari Sa’ad kepada Abu Mihjan.

Perang usai, dan kaum muslimin menang gilang gemilang. Abi Mihjan kembali ke penjara, dan dia sendiri yang memborgol kakinya, sebagaimana janjinya. Sa’ad bin Waqash Radhiallahu ‘Anhu mendatanginya dan membuka borgol tersebut, lalu berkata:

لا نجلدك على خمر أبدا فقال: وأنا والله لا أشربها أبدا

Kami tidak akan mencambukmu karena khamr selamanya. Abu Mihjan menjawab: “Dan Aku, Demi Allah, tidak akan lagi meminum khamr selamanya!”

Saudaraku ….

Sangat sulit bagi kita mengikuti dan menyamai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat nabi yang mulia, Radhiallahu ‘Anhum. Tetapi, paling tidak kita masih bisa seperti Abu Mihjan, walau dia pelaku maksiat namun masih memiliki ghirah kepada perjuangan agamanya, dan ikut hadir dalam deretan nama-nama pahlawan Islam. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam deretan para pejuang agama-Nya, mengikhlaskan, dan memberikan karunia syahadah kepada kita. Amin.

Wallahu A’lam.

 
 

Jajak Pendapat

Kriteria yang paling utama buat pemimpin?

Jujur
Amanah
Muslim
Dikenal

Current Results

Jadwal Sholat

Statistik Pengunjung

mod_jvcounter mod_jvcounter mod_jvcounter mod_jvcounter mod_jvcounter mod_jvcounter
12
807
3832
204628
54.224.102.26
2
2